Hakikat
Bulutangkis
a.
Hakikat
Bulutangkis
Olahraga
bulutangkis atau badminton merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah
dikenal masyarakat secara luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. PB
PBSI (2001: 9) menjelaskan bahwa, “permainan bulutangkis adalah upaya untuk
memasukkan kok ke bidang permainan lawan, tanpa kok itu tidak bisa
dikembalikan”. Bulutangkis adalah permainan yang menggunakan alat untuk
pelaksanaannya. Menurut Herman Subarjah (2000: 13) “tujuan permainan
bulutangkis adalah berusaha untuk menjatuhkan kok di daerah permainan lawan dan
berusaha agar lawan tidak dapat memukul kok dan menjatuhkannya ke daerah
permainan sendiri”.
Permainan bulutangkis sudah dikenal sejak
lama, dulu dikenal dengan sebutan permainan Battledore atau Shuttlecock. Menurut PB. PBSI (2001: 4) bahwa, “meskipun dikenal sebagai permainan
yang dilahirkan di Poona, nama Badminton
sendiri diambil dari nama pertanian milik bangsawan Inggris”. Permainan ini
dimainkan oleh kaum bangsawan kuno di Yunani, India, dan China. Permainan ini
disebut berganti nama dengan sebutan Badminton.
Diberi nama Badminton berasal dari "Badminton House" di
Gloucestershire, kampung halaman "Duke
of Beaufort" (Duke adalah sebutan nama bangsawan Eropa) di mana
olahraga ini dimainkan di abad terakhir.
Bulutangkis dapat dilakukan satu lawan satu
atau dua lawan dua. Davis (1997: 20) mengemukakan bahwa, “badminton can be played as single or doubles, either men’s, women’s or
mixed.” Inti permainan bulutangkis adalah untuk mendapatkan
poin dengan cara memasukkan shuttlecock ke bidang lapangan lawan yang
dibatasi oleh jaring (net) setinggi 1,55 m dari permukaan lantai, yang
dilakukan atas dasar peraturan permainan tertentu. Lapangan bulutangkis
berukuran 610 cm x 1340 cm yang dibagi dalam bidang-bidang, masing-masing dua
sisi berlawanan dengan dibatasi oleh jaring (net). Ada garis tunggal, garis
ganda, dan ada ruang yang memberi jarak antara pelaku dan penerima service.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah gambar lapangan bulutangkis
berdasarkan standar ukuran lapangan bulutangkis internasional.
Permainan
bulutangkis merupakan permainan yang menggunakan alat. Peralatan bulutangkis
adalah raket, kok, net, sepatu dan pakaian, lapangan (Syahri, 2007: 10).
Peralatan tersebut antara lain:
1) Lapangan dan Net
Lapangan
bulutangkis berbentuk persegi empat yang dibagi menjadi dua bagian dengan batas
tengah sebuah net. PBSI (2001: 5) menuliskan bahwa, “lapangan bulutangkis
berukuran 610x1340 cm, yang dibagi dalam dua bidang-bidang, masing-masing dua
sisi berlawanan.” Net berdiri tepat membelah 2 bidang lapangan sama besar
dengan tinggi tiang 155 cm di bagian tepi. Net merupakan pembatas berupa jaring
yang membentang. Tinggi net di tengah-tengah adalah 152 cm dari permukaan
lapangan. Tiang pada net berdiri tepat pada garis tepi lapangan. Net terbuat
dari jaring yang berwarna gelap dan mempunyai pita pada atasnya berwarna putih.
Herman Subarjah (2011: 97) menerangkan bahwa:
a.
Lapangan
harus berbentuk sebuah empat persegi panjang dibuat dengan garis selebar 40 mm.
b.
Garis
harus mudah dikenali dan sebaiknya berwarna putih atau kuning,
c.
Semua
garis membentuk bagian dari area yang dibatasi.
d.
Tiang
net harus diletakkan diatas garis samping untuk ganda
e.
Tiang
net harus setinggi 1,55 meter terhitung dari permukaan lapangan dan harus tetap
vertikal ketika net ditarik
f.
Net
harus terbuat dari bahan halus berwarna gelap berketebalan sama dengan jaring
tidak kurang dari 15 mm dan tidak lebih dari 20 mm.
g.
Lebar
net harus 760 mm dan panjang minimum 6,10 meter
h.
Puncak
net harus diberi batsan pita putih selebar 75 mm secara rangkap diatas tali
atau kabel didalam pita.
i.
Tali
atau kabel tersebut di atas direntangkan secara kokoh sama tinggi dengan puncak
tiang.
j.
Puncak
net dari permukaan lapangan harus 1,524 meter ditengah lapangan dan 1,55 meter
diatas garis samping.
k. Tidak
boleh ada jarak ujung net dengan tiang.
2) Raket
Raket
merupakan alat utama pada permainan bulutangkis. Seiring dengan berkembangnya
jaman raket juga mengalami perubahan dari bahan. Bentuk raket adalah berkepala
oval yang mempunyai tangkai dan pada bagian kosong oval dililitkan senar. Tanpa
adanya raket pemain tidak bisa menjalankan permainan bulutangkis. Raket standar
mempunyai ukuran panjang 66-68 cm dan lebar kepala 22 cm untuk raket berbahan
karbon, beratnya adalah 85 gram. Herman Subarjah (2011: 100) menjelaskan bahwa,
“panjang keseluruhan raket tidak boleh melebihi 680 mm dan lebarnya tidak boleh
melebihi 230 mm.”
3) Kok
(shuttlecock)
Kok
merupakan istilah lazim yang digunakan di Indonesia untuk menyebut shuttlecock. Kok terbuat dari bulu angsa
yang ditancapkan pada gabus setengah bola pada bagian pinggir. Berat kok adalah
5,67 gram dengan jumlah bulu angsa yang
menancap pada pinggir gabus berjumlah 14-16 bulu. Secara umum panjang suatu kok
8,8 cm diukur dari ujung kepala sampai ujung bulu. Panjang batang hingga daun
kok adalah 6,5 cm, sedangkan panjang dop adalah 2,3 cm (Herman Subarjah, 2011:
99)
4) Sepatu
dan pakaian
Pemain bulutangkis
memiliki perlatan tambahan yang dikenakan dalam suatu pertandingan. Baju,
celana, dan sepatu tergolong asesoris utama. Sedangkan ikat tangan, ikat kepala
dan pengaman disebut asesoris tambahan. Herman Subarjah (2000: 55) menuliskan
bahwa, “pakaian yang dipebolehkan adalah pakaian olahraga dengan T-shirt lengan pendek dan celana pendek
berwarna putih.” Penggunaan pakaian dan sepatu dalam permainan bulutangkis
sebenarnya bebas, tetapi dianjurkan pakaian yang tepat. PB. PBSI (2001: 8)
menuliskan, “celana pendek atau kaos bulutangkis sebenarnya bebas, tetapi
ditingkat internasional banyak dipakai jenis kaos yang sejuk dan mampu menyerap
keringat.”
b. Kebutuhan Fisik Bulutangkis
Dalam
cabang olahraga bulutangkis agar mampu mencapai prestasi yang tinggi dalam
permainan bulutangkis harus didukung kondisi prima dalam berbagai aspek.
Bulutangkis adalah olahraga yang bersifat competitive
sport yang membutuhkan kesiapan aspek fisik, teknik, taktik, mental dan
kematangan juara. Menurut Sapta Kunto Purnama (2010: 01) bahwa, “latihan fisik
yang harus dikembangkan harus menyesuaikan kebutuhan fisik dalam permainan
bulutangkis terkini (game 21)”. Mengingat scoring
dalam bulutangkis menggunakan sistem rally
point, maka harus mengembangkan komponen-komponen kebutuhan fisik untuk
mencapai prestasi tinggi. Sapta Kunto Purnama (2010: 01) menuliskan, potret
dari permainan bulutangkis sekarang ini adalah sebagai berikut:
1)
Rata-rata
waktu inplay (rally) 6,7 detik,
istirahat antara inplay 10-18 detik.
2)
Rata-rata
jarak mengejar bola, per inplay 16,5
meter, dengan range 1 meter s/d 45
meter.
3)
Rata-rata
6 arah gerak, range 1 s/d 27 gerak
4)
Jumlah
inplay rata-rata 36 kali per set, range 21 s/d 56 kali.
Sedangkan
PBSI (2001: 46) menuliskan bahwa,
“...pemain
harus melakukan gerakan-gerakan seperti lari cepat, berhenti dengan tiba-tiba
dan segera bergerak lagi, gerak meloncat, menjangkau, memutar badan dengan
cepat, melakukan langkah lebar tanpa pernah kehilangan keseimbangan.”
Melihat dari kebutuhan fisik pemain
bulutangkis yang cukup kompleks dalam pergerakan dan dilaksanakan selama
pertandingan, maka perlu diberikan pelatihan yang terprogram dan terencana
sesuai kebutuhan pemain. Kebutuhan fisik pemain bulutangkis harus dipenuhi
untuk menunjang keterampilan maupun prestasi yang diharapkan. Downey (2007:
102) menyatakan bahwa, “Skill will be
affected as players tire and players who are not fit enough to play risk
damaging their health in someway, for example with injuries to muscles, tendons
or ligaments or, in some cases, to their hearts”. Menurut Herman (2000: 17)
bahwa, “bulutangkis merupakan cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan
keseluruhan, di samping menunjukan ciri sebagai aktivitas jasmani yang
memerlukan kemampuan anaerobik.” Jadi sangat jelas pemain bulutangkis harus
memiliki fisik yang baik untuk menunjang keterampilan yang dimiliki agar mampu
memberikan permaianan yang diharapkan.
c. Gerak Dalam Bulutangkis
Di
dalam belajar gerak materi yang dipelajari adalah pola-pola gerak keterampilan
gerak tubuh. Proses belajarnya meliputi pengamatan gerakan untuk bisa mengerti
bentuk gerakannya, kemudian menirukan dan mencoba melakukannya berulang kali
untuk kemudian menerapkan pola-pola gerak yang dikuasai di dalam kondisi
gerakan yang lebih efisien untuk menyelesaikan tugas gerak tertentu. Sedangkan
hasil dari belajar gerak adalah peningkatan kualitas gerak tubuh.
Dilihat
dari gerak dan jenis keterampilannya, seluruh gerakan yang ada dalam
bulutangkis bersumber dari tiga keterampilan dasar, yaitu lokomotor,
non-lokomotor dan manipulatif. Dari ketiga keterampilan gerak ini terdapat satu
keterampilan yang sangat dominan, sehingga menjadi ciri utama dalam permainan
bulutangkis. Gerakan yang dominan dalam permainan bulutangkis adalah gerakan
cara berdiri, melangkahkan ke berbagai arah, melompat dan selanjutnya adalah
gerakan memukul kok dengan menggunakan raket yang dapat dilakukan dari atas
kepala (overhead strokes), dari
samping mendatar (side arm strokes) dan
dari bawah (underhand strokes). Pola
gerakan tersebut pada umumnya disebut dengan Pola Gerakan Dominan (PGD). Herman
subarjah (2000: 14) menerangkan bahwa, “PGD merupakan syarat dari terbentuknya
keterampilan khas dalam suatu cabang olahraga.” Dengan kata lain jika pemain
memiliki PGD yang diperlukan, maka akan mudah pemain untuk menampilkan
keterampilan gerakan yang baik dalam olahraga. PGD dapat ditingkatkan dengan
melibatkan secara langsung dengan kesulitan pemain manakala melakukan gerakan
tertentu.
Gerak
dalam olahraga bulutangkis adalah melakukan gerakan pukulan servis, lob, smash, dropshot dan drive.
Sedangkan gerak dalam penelitian ini adalah gerakan pada saat memukul shuttlecock
yang arahnya tidak menentu sehingga dimungkinkan untuk bergerak kearah shuttle cock. Gerakan dalam bulutangkis
adalah footwork, stroke, dan hitting position.
d.
Teknik
Dasar Permainan Bulutangkis
PBSI (2001: 10) menuliskan bahwa, “salah satu teknik
dasar bulutangkis yang sangat penting dikuasai secara benar oleh setiap calon
pebulutangkis adalah pegangan raket.” Sedangkan menurut
Sapta Kunto Purnama (2010: 13), “teknik dasar yang harus dikuasai oleh seorang
pemain bulutangkis antara lain: sikap berdiri (stance), teknik memegang raket, teknik memukul bola, dan teknik
langkah kaki (footwork)”. Sedangkan
menurut Herman Subarjah (2000: 21) bahwa,
teknik dasar permainan bulutangkis yang
perlu dipelajari secara umum dapat dikelompokan kedalam beberapa bagian yaitu:
(a) cara memegang raket (grips), (b) Stance (sikap berdiri), (c) footwork (gerakan kaki), (d) Pukulan (Strokes). Selain dari teknik dasar yang
disebutkan, tetapi juga melibatkan teknik yang berkaitan dengan permainan
bulutangkis.
1)
Cara
memegang raket (grips)
Teknik
memegang raket yang diangga baik adalah teknik memegang raket yang dapat
dipergunakan untuk menerima dan mengembalikan kok dengan mudah. Sedangkan
Herman Subarjah (2000: 22) menjelaskan bahwa, “ada beberapa cara memegang raket
diantaranya adalah:
a)
Cara
Amerika: dipegang dengan bagian tangan antara ibu jari dan telunjuk menempel
pada permukaan raket yang gepeng
b)
Cara
Inggris: cara memegang raket sedemikian rupa sehingga ibu jari menempel pada
bagian tangkai gepeng dan telunjuk berada pada bagian yang sempit.
c)
Cara
shakehand: cara pegangan ini adalah
seperti orang berjabat tangan.
d)
Cara
campuran: pegangan campuran adalah campuran atau kombinasi dari ketiga pegangan
sebelumnya. Pegangan ini dapat dilakukan dengan mengubah-ubah posisi jari
telinjuk dan ibu jari disesuaikan dengan arah dan jenis pukulan.”
Sapta Kunto Purnama (2010: 14)
menjelaskan bahwa, “ada beberapa tipe pegangan raket, yaitu: pegangan gebuk
kasur (american grip), pegangan forehand (forehand grip), pegangan backhand
(backhand grip), dan pegangan campuran/ kombinasi (combination grip)”.
a)
American
grip
(gebuk kasur)
Pegangan
amerike ini sering disebut pegangan gebuk kasur. Pegangan ini terlihat sangat
kaku untuk memukul kok. Pegangan ini akan terasa nyaman untuk melakukan pukulan
smash. Menurut Herman (2000: 22)
bahwa, “Cara Amerika: dipegang dengan bagian tangan antara ibu jari dan
telunjuk menempel pada permukaan raket yang gepeng”. Secara umum kelebihan american grip adalah: (1) Efektif bila
digunakan sebagai killing smash,
karena perkenaan dengan kok lurus, (2) Jarang sekali terjadi kok membentur
frame saat memukul, karena permukaan raket menghadap kok secara maksimal.
Selain
memiliki kelebihan, pegangan Amerika ini mempunyai kelemahan yaitu sulit
digunakan untuk pukulan netting dan backhand.
b) Forehand grip
Pegangan ini
sering digunakan pada permainan bulutangkis. Karena pegangan ini merupakan
pegangan yang mudah dilakukan dan nyaman untuk pukulan underhead. Cara melakukan pukulan ini adalah raket dalam posisi
miring kemudian pegang raket dengan cara bagian tangan antara ibu jari dan jari
telunjuk dalam posisi menempel pada perm ukaan tangkai yang sempit. Syahri (2007:
27) menjelaskan bahwa,
“Kelebihan dari
pegangan forehand adalah:
a)
Mengingat
raket dipegang dengan seluruh telapak tangan, pegangan terasa lebih kuat dan
tidak mudah dilepas.
b)
Cara
ini memudahkan pemain dalam melakukan gerakan pukulan terhadap shuttlecock yang datangnya dari sebelah
kanan badan, sehingga pukulan ini dapat dilakukan dengan cermat, baik dalam
kecepatan shuttlecock maupun ketepatan
sasaran.
c)
Dengan
menggunakan pegangan forehand pemain
tidak perlu memutar-mutar pegangan.
Kelemahan
pegangan forehand adalah lemah dalam
permainan netting dan pukulan backhand.

Gambar 5.
Forehand Grip (PBSI, 2001: 12)
c) Backhand grip
cara
pegang backhand grip adalah
kelanjutan dari pegangan forehand grip.
Dari pegangan forehand grip dapat
dialihkan ke backhand grip dengan
memutar raket seperempat putaran ke kiri, namun posisi ibu jari tidak seperti
pada forehand grip, melainkan agak
dekat dengan daun raket.

Gambar 6.
Backhand
Grip (Bulutangkis.com)
d) Combination
grip
Combination grip
atau sering disebut dengan pegangan campuran adalah cara memegang raket dengan
mengubah cara pegangan raket yang disesuaikan dengan datangnya shuttlecock dan jenis pukulan yang
digunakan. Pegangan ini merupakan suatu hasil kombinasi antar forehand grip dengan backhand grip. Dengan menggunakan
pegangan kombinasi ini, para pemain akan memiliki pukulan yang lebih komplet
dan akan sulit dianalisis kelemahannya. Secara umum kelebihan pegangan
kombinasi adalah pemain tidak perlu mengubah posisi raket saat akan memukul
kok.

Gambar 7.
Combination
Grip (Bulutangkis.com)
Dari
pernyataan di atas pegangan dapat disimpulkan, pegangan yang paling efektif dan
efisian adalah pegangan campuran (combination
grip). Hal ini dikarenakan pegangan campuran dapat digunakan dan
menyesuaikan pada arah kok yang akan dipukul. Pada dasarnya teknik pegangan
raket yang sering digunakan dalam permainan ada dua, yaitu pegangan forehand dan pegangan backhand.
2)
Stance (sikap berdiri)
Sikap
berdiri (stance) dalam bulutangkis
harus dikuasai oleh setiap pemain agar pergerakan posisi selalu siap untuk
menjangkau arah kok. Syahri (2007: 30) menerangkan bahwa, “posisi berdiri dii
lapangan harus sedemikian rupa, sehingga pemain dapat secara cepat bergerak ke
segala penjuru lapangan”. Sedangkan Herman Subarjah (2000: 24) menjelaskan
bahwa, “...apabila cara berdiri kurang tepat maka akan mengakibatkan gerakan
menjadi kurang efisien dan merugikan pemain”. Dapat ditarik kesimpulan sikap
berdiri sangat penting dalam suatu permainan bulutangkis dan dapat mempermudah
melakukan aktifitas selanjutnya. Berikut ini dijelaskan cara berdiri untuk
pemain yang menggunakan pegangan kanan.
a) Sikap
berdiri saat servis
Sikap
berdiri saat servis forehand dan backhand berbeda posisi kakinya. Dalam
hal ini berlaku juga pada pegangan kanan dan kiri juga berbeda sikap
berdirinya. Herman Subarjah (2000: 24) menjelaskan bahwa, “stance pada saat service forehand berbeda dengan stance service backhand, begitu juga akan berbeda antara pemain yang menggunakan
pegangan kanan dan pegangan kiri.” Pada
dasarnya sikap berdiri pada saat servis adalah posisi kaki saat melakukan
servis kaki kiri berada lebih depan dari kaki kanan.
b) Sikap
berdiri saat menerima servis
Sikap
saat menerima servis yang benar adalah kaki kiri berada di depan kaki kanan.
Pada saat kok dipukul oleh lawan berat badan dipindahkan ke arah datangnya kok,
bisa di depan maupun ke belakang tergantung dari arah kok servis lawan (Herman
Subarjah, 2000: 25). Sikap berdiri ditentukan pada gerakan pukulan atau service yang akan dilakukan oleh lawan.
c) Sikap
berdiri saat rally/ in play
Stance
pada saat rally sangat bervariasi
tergantung posisi pemain yang sedang melakukan serangan atau bertahan. Sebagai
dasar sikap berdiri saat rally pemain
singgle berada di tengah lapangan.
Hal ini akan mempermudah pemain untuk menjangkau ke arah datangnya kok.
3)
Footwork
Dalam permainan
bulutangkis yang datangnya kok tidak bisa ditentukan maka pemain dituntut untuk
bergerak kesisi datangnya kok. Pergerakan tersebut dituntut efektif dan efisien
dalam bergerak untuk mengembalikan kok. Pemain menempatkan posisi badan agar
memudahkan dalam gerakan memukul kok sesuai posisinya. Syahri (2007: 30)
menerangkan bahwa, “footwork adalah
gerak kaki untuk mendekatkan diri pada posisi jatuhnya kok, sehingga pemain
dapat melakukan pukulan dengan mudah”. Sedangkan Herman Subarjah (2000: 27)
mengemukakan:
“footwork adalah
gerakan-gerakan langkah kaki yang mengatur badan untuk menempatkan posisi badan
sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam gerakan memukul kok sesuai posisinya.
Prinsip dari footwork bagi pemain
pegangan kanan adalah kaki kanan selalu berada diakhir, atau setiap melakukan
langkah selalu diakhiri kaki kanan.”
Teknik footwork merupakan teknik dasar untuk
bisa mendapatkan pukulan yang berkualitas, mengingat posisi dalam bulutangkis
selalu bergerak. Untuk bisa memukul dengan posisi balk, seorang atlet harus
memiliki kecepatan gerak. Kecepatan gerak kaki tidak bisa dicapai kalau footwork tidak teratur.
4)
Teknik
pukulan (strokes)
Teknik pukulan dalam bulutangkis bisa juga
dibedakan berdasarkan arah pukulan atau lintasan pukulan. Menurut
Herman Subarjah (2000: 27) bahwa, “secara garis besar teknik pukulan dibagi
menjadi tiga, yaitu: (a) pukulan bawah, (b) pukulan lurus atau samping, (c)
pukulan atas.” Pukulan-pukulan dalam bulutangkis dapat dimasukan dalam kategori
ketiga teknik pukulan tersebut antara lain:
a) Pukulan
dengan ayunan raket dari bawah atau under
arms strokes terdiri dari: (1) servis, (2) under arm lob atau mengangkat kok tinggi, (3) pukulan netting.
b) Pukulan
mendatar dan menyamping terdiri dari: (1)
offensif lob, (2) defensif lob, (3) drive, (4) dropshot, (5) netting.
c) Pukulan
dari atas kepala (overhead strokes)
terdiri dari: (1) overhead lob, (2)
offensif lob, (3) overhead smash, (4) chopped, (5) dropshot, (6) around the
head.
Jenis-jenis
pukulan di atas, pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara forehand maupun backhand,
kecuali pada pukulan long singgle service
dan around the head.
Tabel 2.
Teknik Pukulan
Berdasar Posisi Raket
(Herman
Subarjah, 2011: 34)
|
No
|
Jenis pukulan
|
|
|
1
|
Pukulan dari bawah ke atas (underarms strokes)
|
1.
Servis
2.
Mengangkat satelkok tinggi
3.
Defensive clear
4.
Offensive clear
5.
netting
|
|
2
|
Pukulan menyamping (sidearm strokes)
|
1.
drive
2.
drive pelan
3.
chopped drive
4.
drive net
|
|
3
|
Pukulan dari atas kepala (overhand strokes)
|
1.
Lob
2.
Smash
3.
Pukulan drop
4.
Chopped
|

