Jumat, 19 Juni 2015

BERMAIN BULUTANGKIS


Hakikat Bulutangkis

 
a.      Hakikat Bulutangkis
Olahraga bulutangkis atau badminton merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah dikenal masyarakat secara luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. PB PBSI (2001: 9) menjelaskan bahwa, “permainan bulutangkis adalah upaya untuk memasukkan kok ke bidang permainan lawan, tanpa kok itu tidak bisa dikembalikan”. Bulutangkis adalah permainan yang menggunakan alat untuk pelaksanaannya. Menurut Herman Subarjah (2000: 13) “tujuan permainan bulutangkis adalah berusaha untuk menjatuhkan kok di daerah permainan lawan dan berusaha agar lawan tidak dapat memukul kok dan menjatuhkannya ke daerah permainan sendiri”.
Permainan bulutangkis sudah dikenal sejak lama, dulu dikenal dengan sebutan permainan Battledore atau Shuttlecock. Menurut PB. PBSI (2001: 4) bahwa, “meskipun dikenal sebagai permainan yang dilahirkan di Poona, nama Badminton sendiri diambil dari nama pertanian milik bangsawan Inggris”. Permainan ini dimainkan oleh kaum bangsawan kuno di Yunani, India, dan China. Permainan ini disebut berganti nama dengan sebutan Badminton. Diberi nama Badminton berasal dari "Badminton House" di Gloucestershire, kampung halaman "Duke of Beaufort" (Duke adalah sebutan nama bangsawan Eropa) di mana olahraga ini dimainkan di abad terakhir.
Bulutangkis dapat dilakukan satu lawan satu atau dua lawan dua. Davis (1997: 20) mengemukakan bahwa, “badminton can be played as single or doubles, either men’s, women’s or mixed.” Inti permainan bulutangkis adalah untuk mendapatkan poin dengan cara memasukkan shuttlecock ke bidang lapangan lawan yang dibatasi oleh jaring (net) setinggi 1,55 m dari permukaan lantai, yang dilakukan atas dasar peraturan permainan tertentu. Lapangan bulutangkis berukuran 610 cm x 1340 cm yang dibagi dalam bidang-bidang, masing-masing dua sisi berlawanan dengan dibatasi oleh jaring (net). Ada garis tunggal, garis ganda, dan ada ruang yang memberi jarak antara pelaku dan penerima service. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah gambar lapangan bulutangkis berdasarkan standar ukuran lapangan bulutangkis internasional.
Permainan bulutangkis merupakan permainan yang menggunakan alat. Peralatan bulutangkis adalah raket, kok, net, sepatu dan pakaian, lapangan (Syahri, 2007: 10). Peralatan tersebut antara lain:
1)       Lapangan dan Net
Lapangan bulutangkis berbentuk persegi empat yang dibagi menjadi dua bagian dengan batas tengah sebuah net. PBSI (2001: 5) menuliskan bahwa, “lapangan bulutangkis berukuran 610x1340 cm, yang dibagi dalam dua bidang-bidang, masing-masing dua sisi berlawanan.” Net berdiri tepat membelah 2 bidang lapangan sama besar dengan tinggi tiang 155 cm di bagian tepi. Net merupakan pembatas berupa jaring yang membentang. Tinggi net di tengah-tengah adalah 152 cm dari permukaan lapangan. Tiang pada net berdiri tepat pada garis tepi lapangan. Net terbuat dari jaring yang berwarna gelap dan mempunyai pita pada atasnya berwarna putih. Herman Subarjah (2011: 97) menerangkan bahwa:
a.       Lapangan harus berbentuk sebuah empat persegi panjang dibuat dengan garis selebar 40 mm.
b.      Garis harus mudah dikenali dan sebaiknya berwarna putih atau kuning,
c.       Semua garis membentuk bagian dari area yang dibatasi.
d.      Tiang net harus diletakkan diatas garis samping untuk ganda
e.       Tiang net harus setinggi 1,55 meter terhitung dari permukaan lapangan dan harus tetap vertikal ketika net ditarik
f.       Net harus terbuat dari bahan halus berwarna gelap berketebalan sama dengan jaring tidak kurang dari 15 mm dan tidak lebih dari 20 mm.
g.      Lebar net harus 760 mm dan panjang minimum 6,10 meter
h.      Puncak net harus diberi batsan pita putih selebar 75 mm secara rangkap diatas tali atau kabel didalam pita.
i.        Tali atau kabel tersebut di atas direntangkan secara kokoh sama tinggi dengan puncak tiang.
j.        Puncak net dari permukaan lapangan harus 1,524 meter ditengah lapangan dan 1,55 meter diatas garis samping.
k.      Tidak boleh ada jarak ujung net dengan tiang.
  

2)      Raket
Raket merupakan alat utama pada permainan bulutangkis. Seiring dengan berkembangnya jaman raket juga mengalami perubahan dari bahan. Bentuk raket adalah berkepala oval yang mempunyai tangkai dan pada bagian kosong oval dililitkan senar. Tanpa adanya raket pemain tidak bisa menjalankan permainan bulutangkis. Raket standar mempunyai ukuran panjang 66-68 cm dan lebar kepala 22 cm untuk raket berbahan karbon, beratnya adalah 85 gram. Herman Subarjah (2011: 100) menjelaskan bahwa, “panjang keseluruhan raket tidak boleh melebihi 680 mm dan lebarnya tidak boleh melebihi 230 mm.” 

3)      Kok (shuttlecock)
Kok merupakan istilah lazim yang digunakan di Indonesia untuk menyebut shuttlecock. Kok terbuat dari bulu angsa yang ditancapkan pada gabus setengah bola pada bagian pinggir. Berat kok adalah 5,67 gram dengan jumlah  bulu angsa yang menancap pada pinggir gabus berjumlah 14-16 bulu. Secara umum panjang suatu kok 8,8 cm diukur dari ujung kepala sampai ujung bulu. Panjang batang hingga daun kok adalah 6,5 cm, sedangkan panjang dop adalah 2,3 cm (Herman Subarjah, 2011: 99)
4)      Sepatu dan pakaian
Pemain bulutangkis memiliki perlatan tambahan yang dikenakan dalam suatu pertandingan. Baju, celana, dan sepatu tergolong asesoris utama. Sedangkan ikat tangan, ikat kepala dan pengaman disebut asesoris tambahan. Herman Subarjah (2000: 55) menuliskan bahwa, “pakaian yang dipebolehkan adalah pakaian olahraga dengan T-shirt lengan pendek dan celana pendek berwarna putih.” Penggunaan pakaian dan sepatu dalam permainan bulutangkis sebenarnya bebas, tetapi dianjurkan pakaian yang tepat. PB. PBSI (2001: 8) menuliskan, “celana pendek atau kaos bulutangkis sebenarnya bebas, tetapi ditingkat internasional banyak dipakai jenis kaos yang sejuk dan mampu menyerap keringat.”

b.      Kebutuhan Fisik Bulutangkis
Dalam cabang olahraga bulutangkis agar mampu mencapai prestasi yang tinggi dalam permainan bulutangkis harus didukung kondisi prima dalam berbagai aspek. Bulutangkis adalah olahraga yang bersifat competitive sport yang membutuhkan kesiapan aspek fisik, teknik, taktik, mental dan kematangan juara. Menurut Sapta Kunto Purnama (2010: 01) bahwa, “latihan fisik yang harus dikembangkan harus menyesuaikan kebutuhan fisik dalam permainan bulutangkis terkini (game 21)”. Mengingat scoring dalam bulutangkis menggunakan sistem rally point, maka harus mengembangkan komponen-komponen kebutuhan fisik untuk mencapai prestasi tinggi. Sapta Kunto Purnama (2010: 01) menuliskan, potret dari permainan bulutangkis sekarang ini adalah sebagai berikut:
1)      Rata-rata waktu inplay (rally) 6,7 detik, istirahat antara inplay 10-18 detik.
2)      Rata-rata jarak mengejar bola, per inplay 16,5 meter, dengan range 1 meter s/d 45 meter.
3)      Rata-rata 6 arah gerak, range 1 s/d 27 gerak
4)      Jumlah inplay rata-rata 36 kali per set, range 21 s/d 56 kali.
Sedangkan PBSI (2001: 46) menuliskan bahwa,
“...pemain harus melakukan gerakan-gerakan seperti lari cepat, berhenti dengan tiba-tiba dan segera bergerak lagi, gerak meloncat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan langkah lebar tanpa pernah kehilangan keseimbangan.”
Melihat dari kebutuhan fisik pemain bulutangkis yang cukup kompleks dalam pergerakan dan dilaksanakan selama pertandingan, maka perlu diberikan pelatihan yang terprogram dan terencana sesuai kebutuhan pemain. Kebutuhan fisik pemain bulutangkis harus dipenuhi untuk menunjang keterampilan maupun prestasi yang diharapkan. Downey (2007: 102) menyatakan bahwa, “Skill will be affected as players tire and players who are not fit enough to play risk damaging their health in someway, for example with injuries to muscles, tendons or ligaments or, in some cases, to their hearts”. Menurut Herman (2000: 17) bahwa, “bulutangkis merupakan cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan keseluruhan, di samping menunjukan ciri sebagai aktivitas jasmani yang memerlukan kemampuan anaerobik.” Jadi sangat jelas pemain bulutangkis harus memiliki fisik yang baik untuk menunjang keterampilan yang dimiliki agar mampu memberikan permaianan yang diharapkan.

c.       Gerak Dalam Bulutangkis
Di dalam belajar gerak materi yang dipelajari adalah pola-pola gerak keterampilan gerak tubuh. Proses belajarnya meliputi pengamatan gerakan untuk bisa mengerti bentuk gerakannya, kemudian menirukan dan mencoba melakukannya berulang kali untuk kemudian menerapkan pola-pola gerak yang dikuasai di dalam kondisi gerakan yang lebih efisien untuk menyelesaikan tugas gerak tertentu. Sedangkan hasil dari belajar gerak adalah peningkatan kualitas gerak tubuh.
Dilihat dari gerak dan jenis keterampilannya, seluruh gerakan yang ada dalam bulutangkis bersumber dari tiga keterampilan dasar, yaitu lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif. Dari ketiga keterampilan gerak ini terdapat satu keterampilan yang sangat dominan, sehingga menjadi ciri utama dalam permainan bulutangkis. Gerakan yang dominan dalam permainan bulutangkis adalah gerakan cara berdiri, melangkahkan ke berbagai arah, melompat dan selanjutnya adalah gerakan memukul kok dengan menggunakan raket yang dapat dilakukan dari atas kepala (overhead strokes), dari samping mendatar (side arm strokes) dan dari bawah (underhand strokes). Pola gerakan tersebut pada umumnya disebut dengan Pola Gerakan Dominan (PGD). Herman subarjah (2000: 14) menerangkan bahwa, “PGD merupakan syarat dari terbentuknya keterampilan khas dalam suatu cabang olahraga.” Dengan kata lain jika pemain memiliki PGD yang diperlukan, maka akan mudah pemain untuk menampilkan keterampilan gerakan yang baik dalam olahraga. PGD dapat ditingkatkan dengan melibatkan secara langsung dengan kesulitan pemain manakala melakukan gerakan tertentu.
Gerak dalam olahraga bulutangkis adalah melakukan gerakan pukulan servis, lob, smash, dropshot dan drive. Sedangkan gerak dalam penelitian ini adalah gerakan pada saat memukul shuttlecock yang arahnya tidak menentu sehingga dimungkinkan untuk bergerak kearah shuttle cock. Gerakan dalam bulutangkis adalah footwork, stroke, dan hitting position.

d.      Teknik Dasar Permainan Bulutangkis
PBSI (2001: 10) menuliskan bahwa, “salah satu teknik dasar bulutangkis yang sangat penting dikuasai secara benar oleh setiap calon pebulutangkis adalah pegangan raket.” Sedangkan menurut Sapta Kunto Purnama (2010: 13), “teknik dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemain bulutangkis antara lain: sikap berdiri (stance), teknik memegang raket, teknik memukul bola, dan teknik langkah kaki (footwork)”. Sedangkan menurut Herman Subarjah (2000: 21) bahwa,
teknik dasar permainan bulutangkis yang perlu dipelajari secara umum dapat dikelompokan kedalam beberapa bagian yaitu: (a) cara memegang raket (grips), (b) Stance (sikap berdiri), (c) footwork (gerakan kaki), (d) Pukulan (Strokes). Selain dari teknik dasar yang disebutkan, tetapi juga melibatkan teknik yang berkaitan dengan permainan bulutangkis.

1)      Cara memegang raket (grips)
Teknik memegang raket yang diangga baik adalah teknik memegang raket yang dapat dipergunakan untuk menerima dan mengembalikan kok dengan mudah. Sedangkan Herman Subarjah (2000: 22) menjelaskan bahwa, “ada beberapa cara memegang raket diantaranya adalah:
a)      Cara Amerika: dipegang dengan bagian tangan antara ibu jari dan telunjuk menempel pada permukaan raket yang gepeng
b)      Cara Inggris: cara memegang raket sedemikian rupa sehingga ibu jari menempel pada bagian tangkai gepeng dan telunjuk berada pada bagian yang sempit.
c)      Cara shakehand: cara pegangan ini adalah seperti orang berjabat tangan.
d)     Cara campuran: pegangan campuran adalah campuran atau kombinasi dari ketiga pegangan sebelumnya. Pegangan ini dapat dilakukan dengan mengubah-ubah posisi jari telinjuk dan ibu jari disesuaikan dengan arah dan jenis pukulan.”
Sapta Kunto Purnama (2010: 14) menjelaskan bahwa, “ada beberapa tipe pegangan raket, yaitu: pegangan gebuk kasur (american grip), pegangan forehand (forehand grip), pegangan backhand (backhand grip), dan pegangan campuran/ kombinasi (combination grip)”.
a)      American grip (gebuk kasur)
Pegangan amerike ini sering disebut pegangan gebuk kasur. Pegangan ini terlihat sangat kaku untuk memukul kok. Pegangan ini akan terasa nyaman untuk melakukan pukulan smash. Menurut Herman (2000: 22) bahwa, “Cara Amerika: dipegang dengan bagian tangan antara ibu jari dan telunjuk menempel pada permukaan raket yang gepeng”. Secara umum kelebihan american grip adalah: (1) Efektif bila digunakan sebagai killing smash, karena perkenaan dengan kok lurus, (2) Jarang sekali terjadi kok membentur frame saat memukul, karena permukaan raket menghadap kok secara maksimal.
Selain memiliki kelebihan, pegangan Amerika ini mempunyai kelemahan yaitu sulit digunakan untuk pukulan netting dan backhand.
b)      Forehand grip
Pegangan ini sering digunakan pada permainan bulutangkis. Karena pegangan ini merupakan pegangan yang mudah dilakukan dan nyaman untuk pukulan underhead. Cara melakukan pukulan ini adalah raket dalam posisi miring kemudian pegang raket dengan cara bagian tangan antara ibu jari dan jari telunjuk dalam posisi menempel pada perm ukaan tangkai yang sempit. Syahri (2007: 27) menjelaskan bahwa,
“Kelebihan dari pegangan forehand adalah:
a)    Mengingat raket dipegang dengan seluruh telapak tangan, pegangan terasa lebih kuat dan tidak mudah dilepas.
b)   Cara ini memudahkan pemain dalam melakukan gerakan pukulan terhadap shuttlecock yang datangnya dari sebelah kanan badan, sehingga pukulan ini dapat dilakukan dengan cermat, baik dalam kecepatan shuttlecock maupun ketepatan sasaran.
c)    Dengan menggunakan pegangan forehand pemain tidak perlu memutar-mutar pegangan.

Kelemahan pegangan forehand adalah lemah dalam permainan netting dan pukulan backhand.
Gambar 5.
Forehand Grip (PBSI, 2001: 12)
c)      Backhand grip
cara pegang backhand grip adalah kelanjutan dari pegangan forehand grip. Dari pegangan forehand grip dapat dialihkan ke backhand grip dengan memutar raket seperempat putaran ke kiri, namun posisi ibu jari tidak seperti pada forehand grip, melainkan agak dekat dengan daun raket.
Gambar 6.
Backhand Grip (Bulutangkis.com)
d)     Combination grip
Combination grip atau sering disebut dengan pegangan campuran adalah cara memegang raket dengan mengubah cara pegangan raket yang disesuaikan dengan datangnya shuttlecock dan jenis pukulan yang digunakan. Pegangan ini merupakan suatu hasil kombinasi antar forehand grip dengan backhand grip. Dengan menggunakan pegangan kombinasi ini, para pemain akan memiliki pukulan yang lebih komplet dan akan sulit dianalisis kelemahannya. Secara umum kelebihan pegangan kombinasi adalah pemain tidak perlu mengubah posisi raket saat akan memukul kok.
Gambar 7.
Combination Grip (Bulutangkis.com)
Dari pernyataan di atas pegangan dapat disimpulkan, pegangan yang paling efektif dan efisian adalah pegangan campuran (combination grip). Hal ini dikarenakan pegangan campuran dapat digunakan dan menyesuaikan pada arah kok yang akan dipukul. Pada dasarnya teknik pegangan raket yang sering digunakan dalam permainan ada dua, yaitu pegangan forehand dan pegangan backhand.

2)      Stance (sikap berdiri)
Sikap berdiri (stance) dalam bulutangkis harus dikuasai oleh setiap pemain agar pergerakan posisi selalu siap untuk menjangkau arah kok. Syahri (2007: 30) menerangkan bahwa, “posisi berdiri dii lapangan harus sedemikian rupa, sehingga pemain dapat secara cepat bergerak ke segala penjuru lapangan”. Sedangkan Herman Subarjah (2000: 24) menjelaskan bahwa, “...apabila cara berdiri kurang tepat maka akan mengakibatkan gerakan menjadi kurang efisien dan merugikan pemain”. Dapat ditarik kesimpulan sikap berdiri sangat penting dalam suatu permainan bulutangkis dan dapat mempermudah melakukan aktifitas selanjutnya. Berikut ini dijelaskan cara berdiri untuk pemain yang menggunakan pegangan kanan.
a)      Sikap berdiri saat servis
Sikap berdiri saat servis forehand dan backhand berbeda posisi kakinya. Dalam hal ini berlaku juga pada pegangan kanan dan kiri juga berbeda sikap berdirinya. Herman Subarjah (2000: 24) menjelaskan bahwa, “stance pada saat service forehand berbeda dengan stance service backhand, begitu juga akan berbeda antara pemain yang menggunakan pegangan kanan dan pegangan kiri.”  Pada dasarnya sikap berdiri pada saat servis adalah posisi kaki saat melakukan servis kaki kiri berada lebih depan dari kaki kanan.
b)      Sikap berdiri saat menerima servis
Sikap saat menerima servis yang benar adalah kaki kiri berada di depan kaki kanan. Pada saat kok dipukul oleh lawan berat badan dipindahkan ke arah datangnya kok, bisa di depan maupun ke belakang tergantung dari arah kok servis lawan (Herman Subarjah, 2000: 25). Sikap berdiri ditentukan pada gerakan pukulan atau service yang akan dilakukan oleh lawan.
c)      Sikap berdiri saat rally/ in play
Stance pada saat rally sangat bervariasi tergantung posisi pemain yang sedang melakukan serangan atau bertahan. Sebagai dasar sikap berdiri saat rally pemain singgle berada di tengah lapangan. Hal ini akan mempermudah pemain untuk menjangkau ke arah datangnya kok.

3)      Footwork
Dalam permainan bulutangkis yang datangnya kok tidak bisa ditentukan maka pemain dituntut untuk bergerak kesisi datangnya kok. Pergerakan tersebut dituntut efektif dan efisien dalam bergerak untuk mengembalikan kok. Pemain menempatkan posisi badan agar memudahkan dalam gerakan memukul kok sesuai posisinya. Syahri (2007: 30) menerangkan bahwa, “footwork adalah gerak kaki untuk mendekatkan diri pada posisi jatuhnya kok, sehingga pemain dapat melakukan pukulan dengan mudah”. Sedangkan Herman Subarjah (2000: 27) mengemukakan:
“footwork adalah gerakan-gerakan langkah kaki yang mengatur badan untuk menempatkan posisi badan sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam gerakan memukul kok sesuai posisinya. Prinsip dari footwork bagi pemain pegangan kanan adalah kaki kanan selalu berada diakhir, atau setiap melakukan langkah selalu diakhiri kaki kanan.”
Teknik footwork merupakan teknik dasar untuk bisa mendapatkan pukulan yang berkualitas, mengingat posisi dalam bulutangkis selalu bergerak. Untuk bisa memukul dengan posisi balk, seorang atlet harus memiliki kecepatan gerak. Kecepatan gerak kaki tidak bisa dicapai kalau footwork tidak teratur.

4)      Teknik pukulan (strokes)
Teknik pukulan dalam bulutangkis bisa juga dibedakan berdasarkan arah pukulan atau lintasan pukulan. Menurut Herman Subarjah (2000: 27) bahwa, “secara garis besar teknik pukulan dibagi menjadi tiga, yaitu: (a) pukulan bawah, (b) pukulan lurus atau samping, (c) pukulan atas.” Pukulan-pukulan dalam bulutangkis dapat dimasukan dalam kategori ketiga teknik pukulan tersebut antara lain:
a)      Pukulan dengan ayunan raket dari bawah atau under arms strokes terdiri dari: (1) servis, (2) under arm lob atau mengangkat kok tinggi, (3) pukulan netting.
b)      Pukulan mendatar dan menyamping terdiri dari: (1) offensif lob, (2) defensif lob, (3) drive, (4) dropshot, (5) netting.
c)      Pukulan dari atas kepala (overhead strokes) terdiri dari: (1) overhead lob, (2) offensif lob, (3) overhead smash, (4) chopped, (5) dropshot, (6) around the head.
Jenis-jenis pukulan di atas, pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara forehand maupun backhand, kecuali pada pukulan long singgle service dan around the head.






Tabel 2.
Teknik Pukulan Berdasar Posisi Raket
(Herman Subarjah, 2011: 34)

No
Jenis pukulan
1
Pukulan dari bawah ke atas (underarms strokes)
1.  Servis
2.  Mengangkat satelkok tinggi
3.  Defensive clear
4.  Offensive clear
5.  netting
2
Pukulan menyamping (sidearm strokes)
1.    drive
2.    drive pelan
3.    chopped drive
4.    drive net
3
Pukulan dari atas kepala (overhand strokes)
1. Lob
2. Smash
3. Pukulan drop
4. Chopped