Jumat, 19 Juni 2015

PENGERTIAN LATIHAN



PENGERTIAN LATIHAN
 
a.      Pengertian Latihan
Bompa (2009: 4) menerangkan, “training is process by which an athlete is prepared for the highest level of performance possible.” Dari sumber lain Birch, MacLaren, dan George (2005: 1) menjelaskan bahwa,“exercise physiology is the dicipline involving the examination of how physical activity, exercise influences the structure and function of  the human body. Sedangkan menurut Djoko Pekik Iriyanto (2002: 11-12) bahwa,
latihan adalah proses pelatihan dilaksanakan secara teratur, terencana, menggunakan pola dan sistem tertentu, metodis serta berulang seperti gerakan yang semula sukar dilakukan, kurang koordinatif menjadi semakin mudah, otomatis, dan reflektif sehingga gerak menjadi efisien dan itu harus dikerjakan berkali-kali. Istilah latihan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yang dapat mengandung beberapa makna seperti: (a) practice, (b) exercises, dan (c) training.

 Dari beberapa istilah tersebut, setelah diaplikasikan di lapangan memang nampak sama kegiatannya, yaitu aktivitas fisik.
1)      Practice adalah aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) berolahraga dengan menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang olahraganya.
2)      Exercises adalah perangkat utama dalam proses latihan harian untuk meningkatkan kualitas fungsi sistem organ tubuh manusia, sehingga mempermudah olahragawan dalam penyempurnaan geraknya.
3)      Training adalah penerapan dari suatu perencanaan untuk meningkatkan kemampuan berolahraga yang berisikan materi teori dan praktek.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas pada prinsipnya latihan merupakan suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan: kualitas fisik, kemampuan fungsional peralatan tubuh, dan kualitas psikis anak latih (Sukadiyanto, 2005: 1).

b.      Ciri-ciri Latihan
Menurut Sukadiyanto (2005: 7) ciri-ciri latihan adalah sebagai berikut.
1.      Suatu proses untuk mencapai tingkat kemampuan yang lebih baik dalam berolahraga, yang memerlukan waktu tertentu (pentahapan), serta memerlukan perencanaan yang tepat dan cermat.
2.      Proses latihan harus teratur dan bersifat progresif. Teratur maksudnya dilakukan secara ajeg, maju, dan berkelanjutan (kontinyu). Sedangkan bersifat progresif maksudnya materi latihan diberikan dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang lebih sulit (kompleks), dan dari yang ringan ke yang lebih berat.
3.      Pada setiap satu kali tatap muka (satu sesi/satu unit latihan) harus memiliki tujuan dan sasaran.
4.      Materi latihan harus berisikan materi teori dan praktek, agar pemahaman dan penguasaan keterampilan menjadi relatif permanen.
5.      Menggunakan metode tertentu, yaitu cara paling efektif yang direncanakan secara bertahap dengan memperhitungkan faktor kesulitan, kompleksitas gerak, dan penekanan pada sasaran latihan.

c.       Prinsip Latihan
Dalam pelatihan diperlukan ketelitian dalam membuat program latihannya. Dengan penerapan prinsip-prinsip latihan kedalam program mendukung pelatihan lebih efektif. Seperti yang dikemukakan Sapta Kunto Purnama (2010: 61) bahwa, “prinsip latihan dalam bulutangkis terdiri dari: prinsip generalisasi, prinsip overload, prinsip reversibilitas, prinsip specificity, prinsip dari kompetisi, prinsip keanekaragaman, individual, asas overkompensasi”. Menurut Sukadiyanto (2005: 12) bahwa, “prinsip latihan dapat menghindarkan olahragawan dari rasa sakit dan timbulnya cidera selama proses latihan.” Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005: 13) prinsip latihan antara lain: prinsip kesiapan, individual, adaptasi, beban lebih, progresif, spesifik, variasi, pemanasan dan pendinginan, latihan jangka panjang, prinsip kebalikan, tidak berlebihan, dan sistematik”.
1)      Prinsip kesiapan
Dalam latihan prinsip kesiaa harus diperhatikan, karena setiap individu mempunyai karakteristik berbeda-beda. Materi latihan harus disesuaikan dengan beban yang diberikan dan usia. Sukadiyanto (2005: 13) mengemukakan, “pada prinsip kesiapan, materi dan dosis latihan harus disesuaikan dengan usia olahragawan”. Dari pendapat tersebut jelas usia menentukan dari intensitas latihan di mana pada setiap usia harus disesuaikan. Meskipun atlet memiliki usia yang sama, karakteristik kesiapan atlet akan berbeda. Hal tersebut dikarenakan faktor gizi, keturunan, lingkungan, dan usia kalender.
Mengingat tujuan latihan adalah mengembangkan keterampilan, tidak semua usia sama peningkatan keterampilan. Atlet usia dini lebih dititikberatkan pada pengayaan gerak dalam latihan keterampilan. Berikut adalah tujuan latihan yang disesuaikan dengan usia.


Tabel 1.
Tujuan Latihan Sesuai Usia (Sukadiyanto, 2005: 14)
Usia 6-10 Tahun



Membangun kemauan
Usia 11-13 Tahun


Menyenangkan
Pengayaan keterampilan
Usia 14-18 tahun

Belajar keterampilan
Penyempurnaan teknik
Peningkatan latihan
Dewasa

Persiapan peningkatkan latihan
Latihan khusus
Frekuensi kompetisi diperbanyak
Penampilan Puncak atau masa prestasi




2)      Prinsip individual
Prinsip individu menuntut pelatih untuk memahami kondisi olahragawan. Hal tersebut dikarenakan setiap individu tidak sama dan mempunyai karakteristik masing-masing yang berbeda. Meskipun kembar identik, karakter atlet tidak sama. Pelatih harus mampu menangani atlet sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Perbedaan karakteristik atlet dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Birch, MacLaren dan George (2005: 129) bahwa, “heredity plays a significant role in determining how quickly and how much a body adapts to a training program. Sukadiyanto (2005: 14) menjelaskan, “Faktor yang menyebabkan perbedaan kemampuan anak dalam merespon beban latihan diantaranya, faktor keturunan, kematangan, gizi, waktu istirahat, kebugaran, lingkungan, cidera, motivasi.” Sedangkan Bompa (2009: 38) mengemukakan
individualization is one of the main requirements of contemporary training. Individualization requires that the coach consider the athlete’s abilities, potential, and learning characteristicsand the demands of the athlete’s sport, regardless of the performance level.
Dalam hal ini pelatih dituntut merancang program latihan yang dibuat harus sesuai dengan dosis per individu agar latihan mampu diterima oleh kondisi tubuh atlet.
3)      Prinsip adaptasi
Manusia meupakan makhluk yang paling sempurna, hal ini dikarenakan manusia mempunyai akal pikiran. Selain akal pikiran manusia juga diberikan organ tubuh yang mampu beradaptasi dalam rangsangan latihan yang diberikan. Sukadiyanto (2005: 17) menjelaskan, “latihan menyebabkan terjadinya proses adaptasi pada organ tubuh.” Jika beban latihan ditingkatkan secara progresif, maka organ tubuh akan menyesuaikan terhadap perubahan dengan baik. Prinsip adaptasi tidak semata-mata terjadi pada organ tubuh. Tidak lepas dari pemberian beban latihan yang secara progresif memberikan adaptasi yang bagus. Artinya organ tubuh mampu beradaptasi dengan beban latihan dengan baik jika beban latihan yang diberikan secara progresif yaitu secara ajeg, maju berkelanjutan.
4)      Prinsip beban berlebih
Menurut Sapta Kunto Purnama (2010: 61) bahwa, “beban yang diberikan kepada atlet harus bengis (beban sedikit diatas kemampuannya) dan setiap periode tertentu harus ditingkatkan.” Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005: 17) bahwa, “beban latihan harus mencapai atau melampaui sedikit diatas ambang rangsang.” Dari kedua pendapat tersebut prinsip dari beban berlebih adalah memberikan beban latihan sedikit diatas kemampuan atlet dalam merespon beban latihan. Dalam pembebanan yang baik adalah progresif dan diubah sesuai dengan tingkat perubahan yang terjadi pada olahragawan. Sukadiyanto (2005: 17) mengemukakan, “adapun cara meningkatkan beban latihan dapat dengan cara diperbanyak, diperberat, dipercepat, dan diperlama.”
Dapat disimpulkan dalam prinsip beban berlebih atlet dilatihkan dengan beban yang melebihai dari kemampuan atlet dengan cara diperbanyak, diperberat, dipercepat, diperlama. Hal tersebut memberikan atlet rangsangan beban yang terjadi pada organ-organ tubuh untuk beradaptasi.
5)      Prinsip progresif
Agar terjadi proses adaptasi dalam tubuh, maka diperlukan prinsip beban lebih yang diikuti dengan prinsip progresif. Latihan bersifat progresif, artinya dalam pelaksanaan latihan dilakukan dari yang mudah ke yang sukar, sederhana ke kompleks, umum ke khusus, bagian ke keseluruhan, ringan ke berat, dan dari kuantitas ke kualitas, serta dilaksanakan secara ajeg, bertahap, cermat, berkontinyu, dan tepat (Sukadiyanto, 2005: 18). Sedangkan Birch, MacLaren dan George (2005: 131) menjelaskan bahwa, “Systems such as the cardiovascular system and muscles increase their capacity in response to a training overload.”
Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa latihan yang tepat adalah latihan yang dimulai dari beban yang ringan menuju beban yang berat dan dilakukan secara ajeg dan meningkat. Latihan juga harus dilaksanakan dengan penambahan beban yang seimbang sesuai dengan proses adaptasi anak latih agar beban latihan yang diberikan memberikan peningkatan.
6)      Prinsip spesifikasi
Dalam setiap latihan cabang olahraga tidak berlaku buat latihan cabang olahraga yang lain, dimana pemain bulutangkis melakukan renang 100 meter terlihat terengah-engah saat melakukan. Maka dari itu latihan yang berat pada bulutangkis tidak berlaku untuk olahrga renang. Latihan juga harus sesuai dengan tujuan latihan dari cabang olahraga. Dalam merespon rangsangan latihan, kebutuhan khusus akan direspon baik oleh atlet, sehingga materi latihan dipilih sesuai dengan cabang olahragawan. Selain komponen biomotorik atlet yang diperhatikan dalam prinsip spesifikasi sistem energi dan unsur-unsur harus spesifik yang dibutuhkan oleh cabang olahraga. Birch, MacLaren dan George (2005: 130) menuliskan bahwa, The concept of spesificity refers not only to the mode of training and the muscle groups trained, but also to the energy systems needed to provide ATP for  undertaking the activity.” Dari pendapat tersebut jelas menerangkan tentang pembedaan latihan dilihat dari sistem energi cabang olahraga.Oleh karena itu pelatih harus memperhatikan sistem energi yang dibutuhkan dan paling dominan untuk cabang olahraga yang dilatihkan agar sistem energi dan kekhususan dalam latihan sesuai dengan cabang olahraga.
7)      Prinsip variasi
Pelatihan yang dituntut keseriusan dan mengerahkan energi yang banyak menjadikan atlet mudah jenuh dalam latihan. Pada setiap latihan yang sama maka kejenuhan akan mudah dirasakan oleh atlet. Prinsip variasi dalam latihan berguna untuk menjauhkan rasa kejenuhan atlet. Sukadiyanto (2005: 19) menjelaskan bahwa, “program latihan yang baik harus disusun secara variatif untuk menghindarkan kejenuhan, keteganggan, dan keresahan yang merupakan kelelahan secara psikologis.” Sedangkan sumber lain Bompa (2009: 40) mengemukakan bahwa, “variation is one of the key components needed to induce adaptations in response to training.” Artinya latihan yang bervariasi merupakan kunci untuk membuat atlet tidak merasakan kebosanan dalam menerima rangsangan beban latihan. Dalam prinsip variasi tidak semata-mata latihan divariasi, namun terdapat komponen-komponen utama yang diperlukan. Menurut Martens (Sukadiyanto, 2009: 19) bahwa, “komponen utama untuk memvariasi latihan adalah perbandingan antara: (1) kerja dan istirahat, (2) latihan berat dan ringan.”
8)      Prinsip pemanasan dan pendinginan
Dalam olahraga tidak bisa dilepaskan dari pemanasan dan pendinginan. Pemanasan dilakukan sebelum latihan inti dimulai, sedangkan pendinginan dilaksanakan sesudah latihan inti atau sebagai penutup latihan. Warm-up and warm-down are easily ignored as they may not appear to have a direct bearing on the training session in hand but both elements should be part of every training session and time should be allocated (at least 10 minutes each) to allow this to happen (Badminton Association of England, 2002: 7). Artinya, pemanasan dan pendingan adalah komponen yang mudah atau sering dianggap tidak perlu. Namun pemanasan dan pendinginan harus dilakukan pada setiap sesi latihan  sekurang-kurangnya 10 menit. Sedangkan Birch, MacLaren dan George (2005: 133) menjelaskan,
the purpose of the warm up is to increase blood flow to the muscles and thereby deliver oxygen and metabolic nutrients for the muscles to work, and also to increase the muscle temperature so that enzymes responsible for generation of energy can function at their optimum. A cool down is desirable after a strenuous session or game in order to remove lactic acid and any other metabolities or hormones that may have accumulated, and generally to enable blood that may have pooled in the muscles to be returned to the central circulation.

Meningkatkan aliran darah keotot-otot dan dengan demikian memberikan oksigen dan nutrisi metabolik bagi otot untuk bekerja, dan juga untuk meningkatkan suhu otot sehingga enzim yang bertanggung jawab untuk pembangkit energi dapat berfungsi secara optimal. Sedangkan pendinginan pada intinya mengembalikan otot dan suhu tubuh ke kondisi semula atau normal.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip latihan pada dasarnya mencakup prinsip spesifikasi, system energi, prinsip overload, dan prinsip pemanasan dan pendinginan. Prinsip spesifikasi berarti memiliki kekhususan sistem energi meliputi penggunaan energi, dan prinsip overload yang bekaitan dengan intensitas, frekuensi, dan durasi. Perlu diperhatikan pembuatan suatu program latihan haruslah berdasar pada prinsip-prinsip latihan agar program latihan berjalan sesuai dengan tujuan atau sasaran latihan tanpa mengalami overtraining.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar