PENGERTIAN LATIHAN
a. Pengertian
Latihan
Bompa
(2009: 4) menerangkan, “training is
process by which an athlete is prepared for the highest level of performance
possible.” Dari sumber lain Birch, MacLaren, dan George (2005: 1)
menjelaskan bahwa,“exercise physiology is the dicipline involving the
examination of how physical activity, exercise influences the structure and
function of the human body.” Sedangkan
menurut Djoko Pekik Iriyanto (2002: 11-12) bahwa,
latihan adalah proses pelatihan
dilaksanakan secara teratur, terencana, menggunakan pola dan sistem tertentu,
metodis serta berulang seperti gerakan yang semula sukar dilakukan, kurang
koordinatif menjadi semakin mudah, otomatis, dan reflektif sehingga gerak
menjadi efisien dan itu harus dikerjakan berkali-kali. Istilah latihan berasal
dari kata dalam bahasa Inggris yang dapat mengandung beberapa makna seperti:
(a) practice, (b) exercises, dan (c) training.
Dari beberapa istilah tersebut, setelah
diaplikasikan di lapangan memang nampak sama kegiatannya, yaitu aktivitas
fisik.
1) Practice
adalah aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) berolahraga dengan
menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang
olahraganya.
2) Exercises
adalah perangkat utama dalam proses latihan harian untuk meningkatkan kualitas fungsi
sistem organ tubuh manusia, sehingga mempermudah olahragawan dalam
penyempurnaan geraknya.
3) Training
adalah penerapan dari suatu perencanaan untuk meningkatkan kemampuan
berolahraga yang berisikan materi teori dan praktek.
Berdasarkan
ketiga pengertian di atas pada prinsipnya latihan merupakan suatu proses
perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan: kualitas fisik,
kemampuan fungsional peralatan tubuh, dan kualitas psikis anak latih
(Sukadiyanto, 2005: 1).
b.
Ciri-ciri
Latihan
Menurut
Sukadiyanto (2005: 7) ciri-ciri latihan adalah sebagai berikut.
1. Suatu
proses untuk mencapai tingkat kemampuan yang lebih baik dalam berolahraga, yang
memerlukan waktu tertentu (pentahapan), serta memerlukan perencanaan yang tepat
dan cermat.
2. Proses
latihan harus teratur dan bersifat progresif. Teratur maksudnya dilakukan
secara ajeg, maju, dan berkelanjutan (kontinyu). Sedangkan bersifat progresif
maksudnya materi latihan diberikan dari yang mudah ke yang sukar, dari yang
sederhana ke yang lebih sulit (kompleks), dan dari yang ringan ke yang lebih
berat.
3. Pada
setiap satu kali tatap muka (satu sesi/satu unit latihan) harus memiliki tujuan
dan sasaran.
4. Materi
latihan harus berisikan materi teori dan praktek, agar pemahaman dan penguasaan
keterampilan menjadi relatif permanen.
5. Menggunakan
metode tertentu, yaitu cara paling efektif yang direncanakan secara bertahap
dengan memperhitungkan faktor kesulitan, kompleksitas gerak, dan penekanan pada
sasaran latihan.
c.
Prinsip
Latihan
Dalam
pelatihan diperlukan ketelitian dalam membuat program latihannya. Dengan
penerapan prinsip-prinsip latihan kedalam program mendukung pelatihan lebih
efektif. Seperti yang dikemukakan Sapta Kunto Purnama (2010: 61) bahwa,
“prinsip latihan dalam bulutangkis terdiri dari: prinsip generalisasi, prinsip overload, prinsip reversibilitas, prinsip specificity,
prinsip dari kompetisi, prinsip keanekaragaman, individual, asas
overkompensasi”. Menurut Sukadiyanto (2005: 12) bahwa, “prinsip latihan dapat
menghindarkan olahragawan dari rasa sakit dan timbulnya cidera selama proses
latihan.” Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005: 13) prinsip latihan antara lain:
prinsip kesiapan, individual, adaptasi, beban lebih, progresif, spesifik,
variasi, pemanasan dan pendinginan, latihan jangka panjang, prinsip kebalikan,
tidak berlebihan, dan sistematik”.
1) Prinsip
kesiapan
Dalam
latihan prinsip kesiaa harus diperhatikan, karena setiap individu mempunyai
karakteristik berbeda-beda. Materi latihan harus disesuaikan dengan beban yang
diberikan dan usia. Sukadiyanto (2005: 13) mengemukakan, “pada prinsip
kesiapan, materi dan dosis latihan harus disesuaikan dengan usia olahragawan”.
Dari pendapat tersebut jelas usia menentukan dari intensitas latihan di mana
pada setiap usia harus disesuaikan. Meskipun atlet memiliki usia yang sama,
karakteristik kesiapan atlet akan berbeda. Hal tersebut dikarenakan faktor
gizi, keturunan, lingkungan, dan usia kalender.
Mengingat
tujuan latihan adalah mengembangkan keterampilan, tidak semua usia sama peningkatan
keterampilan. Atlet usia dini lebih dititikberatkan pada pengayaan gerak dalam
latihan keterampilan. Berikut adalah tujuan latihan yang disesuaikan dengan
usia.
Tabel 1.
Tujuan Latihan
Sesuai Usia (Sukadiyanto, 2005: 14)
|
Usia 6-10
Tahun
|
|
|
|
|
Membangun
kemauan
|
Usia 11-13
Tahun
|
|
|
|
Menyenangkan
|
Pengayaan
keterampilan
|
Usia 14-18
tahun
|
|
|
Belajar
keterampilan
|
Penyempurnaan
teknik
|
Peningkatan
latihan
|
Dewasa
|
|
|
Persiapan
peningkatkan latihan
|
Latihan khusus
Frekuensi
kompetisi diperbanyak
|
Penampilan Puncak
atau masa prestasi
|
|
|
|
|
|
2) Prinsip
individual
Prinsip
individu menuntut pelatih untuk memahami kondisi olahragawan. Hal tersebut
dikarenakan setiap individu tidak sama dan mempunyai karakteristik
masing-masing yang berbeda. Meskipun kembar identik, karakter atlet tidak sama.
Pelatih harus mampu menangani atlet sesuai dengan kondisi masing-masing
individu. Perbedaan karakteristik atlet dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Birch, MacLaren dan George (2005: 129) bahwa, “heredity plays a significant role in
determining how quickly and how much a body adapts to a training program”.
Sukadiyanto (2005: 14) menjelaskan, “Faktor yang menyebabkan perbedaan
kemampuan anak dalam merespon beban latihan diantaranya, faktor keturunan,
kematangan, gizi, waktu istirahat, kebugaran, lingkungan, cidera, motivasi.”
Sedangkan Bompa (2009: 38) mengemukakan
individualization
is one of the main requirements of contemporary training. Individualization
requires that the coach consider the athlete’s abilities, potential, and
learning characteristicsand the demands of the athlete’s sport, regardless of
the performance level.
Dalam hal ini pelatih dituntut merancang program
latihan yang dibuat harus sesuai dengan dosis per individu agar latihan mampu
diterima oleh kondisi tubuh atlet.
3) Prinsip
adaptasi
Manusia
meupakan makhluk yang paling sempurna, hal ini dikarenakan manusia mempunyai
akal pikiran. Selain akal pikiran manusia juga diberikan organ tubuh yang mampu
beradaptasi dalam rangsangan latihan yang diberikan. Sukadiyanto (2005: 17)
menjelaskan, “latihan menyebabkan terjadinya proses adaptasi pada organ tubuh.”
Jika beban latihan ditingkatkan secara progresif, maka organ tubuh akan
menyesuaikan terhadap perubahan dengan baik. Prinsip adaptasi tidak semata-mata
terjadi pada organ tubuh. Tidak lepas dari pemberian beban latihan yang secara
progresif memberikan adaptasi yang bagus. Artinya organ tubuh mampu beradaptasi
dengan beban latihan dengan baik jika beban latihan yang diberikan secara
progresif yaitu secara ajeg, maju berkelanjutan.
4) Prinsip
beban berlebih
Menurut
Sapta Kunto Purnama (2010: 61) bahwa, “beban yang diberikan kepada atlet harus
bengis (beban sedikit diatas kemampuannya) dan setiap periode tertentu harus
ditingkatkan.” Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005: 17) bahwa, “beban latihan
harus mencapai atau melampaui sedikit diatas ambang rangsang.” Dari kedua
pendapat tersebut prinsip dari beban berlebih adalah memberikan beban latihan
sedikit diatas kemampuan atlet dalam merespon beban latihan. Dalam pembebanan yang
baik adalah progresif dan diubah sesuai dengan tingkat perubahan yang terjadi
pada olahragawan. Sukadiyanto (2005: 17) mengemukakan, “adapun cara
meningkatkan beban latihan dapat dengan cara diperbanyak, diperberat,
dipercepat, dan diperlama.”
Dapat
disimpulkan dalam prinsip beban berlebih atlet dilatihkan dengan beban yang
melebihai dari kemampuan atlet dengan cara diperbanyak, diperberat, dipercepat,
diperlama. Hal tersebut memberikan atlet rangsangan beban yang terjadi pada
organ-organ tubuh untuk beradaptasi.
5) Prinsip
progresif
Agar
terjadi proses adaptasi dalam tubuh, maka diperlukan prinsip beban lebih yang
diikuti dengan prinsip progresif. Latihan bersifat progresif, artinya dalam
pelaksanaan latihan dilakukan dari yang mudah ke yang sukar, sederhana ke
kompleks, umum ke khusus, bagian ke keseluruhan, ringan ke berat, dan dari
kuantitas ke kualitas, serta dilaksanakan secara ajeg, bertahap, cermat,
berkontinyu, dan tepat (Sukadiyanto, 2005: 18). Sedangkan Birch, MacLaren dan George (2005: 131) menjelaskan bahwa, “Systems such as the cardiovascular system
and muscles increase their capacity in response to a training overload.”
Dari
pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa latihan yang tepat adalah
latihan yang dimulai dari beban yang ringan menuju beban yang berat dan
dilakukan secara ajeg dan meningkat. Latihan juga harus dilaksanakan dengan
penambahan beban yang seimbang sesuai dengan proses adaptasi anak latih agar
beban latihan yang diberikan memberikan peningkatan.
6) Prinsip
spesifikasi
Dalam
setiap latihan cabang olahraga tidak berlaku buat latihan cabang olahraga yang
lain, dimana pemain bulutangkis melakukan renang 100 meter terlihat
terengah-engah saat melakukan. Maka dari itu latihan yang berat pada
bulutangkis tidak berlaku untuk olahrga renang. Latihan juga harus sesuai
dengan tujuan latihan dari cabang olahraga. Dalam merespon rangsangan latihan,
kebutuhan khusus akan direspon baik oleh atlet, sehingga materi latihan dipilih
sesuai dengan cabang olahragawan. Selain komponen biomotorik atlet yang
diperhatikan dalam prinsip spesifikasi sistem energi dan unsur-unsur harus
spesifik yang dibutuhkan oleh cabang olahraga. Birch,
MacLaren dan George (2005: 130) menuliskan bahwa, “The concept of spesificity refers not only
to the mode of training and the muscle groups trained, but also to the energy
systems needed to provide ATP for
undertaking the activity.” Dari
pendapat tersebut jelas menerangkan tentang pembedaan latihan dilihat dari
sistem energi cabang olahraga.Oleh karena itu pelatih harus
memperhatikan sistem energi yang dibutuhkan dan paling dominan untuk cabang
olahraga yang dilatihkan agar sistem energi dan kekhususan dalam latihan sesuai
dengan cabang olahraga.
7) Prinsip
variasi
Pelatihan
yang dituntut keseriusan dan mengerahkan energi yang banyak menjadikan atlet
mudah jenuh dalam latihan. Pada setiap latihan yang sama maka kejenuhan akan
mudah dirasakan oleh atlet. Prinsip variasi dalam latihan berguna untuk
menjauhkan rasa kejenuhan atlet. Sukadiyanto (2005: 19) menjelaskan bahwa,
“program latihan yang baik harus disusun secara variatif untuk menghindarkan
kejenuhan, keteganggan, dan keresahan yang merupakan kelelahan secara
psikologis.” Sedangkan sumber lain Bompa (2009: 40) mengemukakan bahwa, “variation is one of the key components
needed to induce adaptations in response to training.” Artinya latihan yang
bervariasi merupakan kunci untuk membuat atlet tidak merasakan kebosanan dalam
menerima rangsangan beban latihan. Dalam prinsip variasi tidak semata-mata
latihan divariasi, namun terdapat komponen-komponen utama yang diperlukan.
Menurut Martens (Sukadiyanto, 2009: 19) bahwa, “komponen utama untuk memvariasi
latihan adalah perbandingan antara: (1) kerja dan istirahat, (2) latihan berat
dan ringan.”
8) Prinsip
pemanasan dan pendinginan
Dalam
olahraga tidak bisa dilepaskan dari pemanasan dan pendinginan. Pemanasan
dilakukan sebelum latihan inti dimulai, sedangkan pendinginan dilaksanakan
sesudah latihan inti atau sebagai penutup latihan. Warm-up and warm-down are easily ignored as
they may not appear to have a direct bearing on the training session in hand
but both elements should be part of every training session and time should be
allocated (at least 10 minutes each) to allow this to happen (Badminton Association of England, 2002: 7). Artinya,
pemanasan dan pendingan adalah komponen yang mudah atau sering dianggap tidak
perlu. Namun pemanasan dan pendinginan harus dilakukan pada setiap sesi
latihan sekurang-kurangnya 10 menit.
Sedangkan Birch, MacLaren dan George (2005: 133) menjelaskan,
the
purpose of the warm up is to increase blood flow to the muscles and thereby
deliver oxygen and metabolic nutrients for the muscles to work, and also to
increase the muscle temperature so that enzymes responsible for generation of
energy can function at their optimum. A cool down is desirable after a
strenuous session or game in order to remove lactic acid and any other
metabolities or hormones that may have accumulated, and generally to enable blood
that may have pooled in the muscles to be returned to the central circulation.
Meningkatkan
aliran darah keotot-otot dan dengan demikian memberikan oksigen dan nutrisi
metabolik bagi otot untuk bekerja, dan
juga untuk meningkatkan suhu otot sehingga enzim yang bertanggung jawab untuk
pembangkit energi dapat berfungsi secara optimal. Sedangkan pendinginan pada
intinya mengembalikan otot dan suhu tubuh ke kondisi semula atau normal.
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip latihan pada
dasarnya mencakup prinsip spesifikasi, system energi, prinsip overload, dan prinsip pemanasan dan pendinginan.
Prinsip spesifikasi berarti memiliki kekhususan sistem energi meliputi
penggunaan energi, dan prinsip overload yang bekaitan dengan intensitas,
frekuensi, dan durasi. Perlu diperhatikan pembuatan suatu program latihan
haruslah berdasar pada prinsip-prinsip latihan agar program latihan berjalan
sesuai dengan tujuan atau sasaran latihan tanpa mengalami overtraining.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar